Lama sudah. Ingin menjejak kaki di tanah ini sedari dulu. Menanti saat mencium bau tanah dan harum udara saat pertama tiba. Ada sedikit keinginan, menyentuh dan mungkin menciumnya sekilas, tapi takut saja dikatai norak. Hahahaha. Pulau per pulau serasa keajaiban bagiku. Ada 'rasa' dan bau berbeda dari setiapnya. Dulu pernah kukatakan pada seorang teman, namun dia menganggapnya sambil lalu.
Tak apa. Aku yang merasa, inderaku membauinya.
Di satu ketika menginjak pulau jawa, Jogja. Mistis, harum terasa. Teman seperjalanan bilang tak ada. Ketika backpack dan hopping island, Flores menyambut dengan ramah, tanahnya berbau serasa menanti kue dipanggang, harum sekaligus panas. Lombok, sedikit mengecewakan, hanya sedikit rasa, ibarat mencobai jambu kampung, kelat. Namun pertemuan kedua, aku menyukainya. Harumnya hingga kinipun masih terasa. Nias di musim hujan, bau humus lembab. Seperti roti bantal yang tak tersentuh dua hari. Ketika hari beranjak terang, pun masih tak terbiasa. Mentawai, menyisakan haru. Saat mengingatnya, aku menginginkan segelas kopi susu. Simeulue, keliaran jiwa, harum pasir dan kepiting kelapa. Lembata saat senja, tanah berdebu dan harum pucuk - pucuk jambu mete. Sabang dengan rasa asin yang tak hilang - hilang. Terlalu banyak kurasa. di pulau Bangka, bau timah bercampur lembabnya udara malam. Tidak menyenangkan di malam hari, namun matahari menjanjikan keriangan dalam sepiring empek2. Sumbawa, yahh aku mesti mengakui, tak ada yang tertinggal dalam penciuman dan rasaku. Bali, sang pulau dewata, ibarat mengunyah keripik singkong. Renyah, bersemangat.
Dan Borneo. entahlah, kecuali panas yang tak henti, udara yang terasa lengket. dan tanahnya, hanya sedikit tercium kering. Ibarat mendapatkan sepotong roti bakar, atau ilalang yang hangus. Namun menyenangkan. Mungkin masih belum biasa.
Besok, ada waktuku membauinya.
Kamis, 20 Oktober 2011
Rabu, 05 Oktober 2011
Setiap hari..
Jalanan yang sama, bangunan-bangunan yang sama, kericuhan yang sama.
setiap hari. Deru yang sama, memekakkan telinga. klakson yang bikin pusing, dan geraman mesin-mesin yang seolah tak mau jauh tertinggal. Laskar kepagian.
Anehnya, aku menganggap semua teman. Menunggu merah menjadi hijau, beriringan seolah berpawai riang di tengah kepadatan, dan mataku mencari-cari plat-plat yang akrab sejak lampu merah pertama. Sahabat dalam kesunyian hati. Dalam keheningan pikiran. Selalu, disetiap pagiku yang ramai.
setiap hari. Deru yang sama, memekakkan telinga. klakson yang bikin pusing, dan geraman mesin-mesin yang seolah tak mau jauh tertinggal. Laskar kepagian.
Anehnya, aku menganggap semua teman. Menunggu merah menjadi hijau, beriringan seolah berpawai riang di tengah kepadatan, dan mataku mencari-cari plat-plat yang akrab sejak lampu merah pertama. Sahabat dalam kesunyian hati. Dalam keheningan pikiran. Selalu, disetiap pagiku yang ramai.
Sabtu, 24 September 2011
Rinjani, peraduan sang dewi...
Hari kapan itu, pesan pada dinding seorang teman, pernyataan kecewa atas komentar seorang sahabat. Ketika riuh rencana perjalanan dibagikan, suara sumbang menyambangi, mencintai alam kok mesti jauh, mesti buang2 uang. Sedikit menggelitik, sebab sang sahabat tidak tahu, mereka yg antusias bukanlah pemilik kantung tebal. Hanya semangat menyala, kerinduan akan keheningan semesta. Sedikit jauh ya benar, menguras tenaga tentu saja. Buang2 uang, entahlah. Demi dahaga hati ini, sepertinya tak apa, tak sebanding. Menjauh dari keramaian sementara.
Kebaikan hati mengiringi sepanjang perjalanan. Senyum manis, sapa ramah. Aula lantai dua di Immaculata adalah markas yg tak terlupa. Meski harus beranjak lebih pagi menjelang sekolah minggu sebab aula digunakan.
Pendakian kali ini terasa istimewa. Berapa kali kau boleh mendapat doa tak terduga dari seisi gereja mengiringi kakimu menapak sang dewi? Tentu kami satu dari sekian yg beruntung.
Dalam angkutan yang membawa ke Sembalun aku menerawang, pagi sebelumnya tak ada semangat dalam perjalanan kali ini. Letih minggu2 terakhir terasa melemahkan semangatku, sempat terpikir untuk membatalkan saja. Namun perjumpaan dengan para sahabat sungguh bagai candu, sekejap itu rasaku meledak-ledak ingin segera memulai petualangan ini. Tak ada keraguan.
Dan meski mentari garang menemani langkah-langkah awal, tak gentar kaki-kaki ini. Melambat seiring lelah menyapa, malah terasa bagai berkat. Kesempatan menikmati detik demi detik dalam keluasan semesta yang segera memanjakan mata. Padang rumput dalam warna kuning keemasan menakjubkan. Jalanan menurun dan menanjak tak habis-habisnya. Sekelilingku lengang, luas dan luas. Hanya rumput bergoyang, dan debu yang sedikit menyesakkan. Sebatang pohon di kejauhan menguarkan semangat yang segera berbuah kecewa saat tak dpt digunakan untuk berteduh. Dia menepi, tegak berdiri jauh dari jalanan. Pos satu dan berikutnya terlalui. Di kejauhan, puncak sang dewi, anggun menanti.
Ketika hari beranjak senja, dan jalanan setapak pada punggungan bukit-bukit kering mulai menghilang dalam kelam, kami memasang tenda-tenda di bawah bintang-bintang malam yang segera muncul. Indah. Lelah hari pertama membawa kami dalam tidur nyenyak segera. Dalam keheningan pagi, suara sang padre membangunkan para wedus untuk segera melangkah kembali. Hari kedua dimulai.
Dan perjalanan ini berubah berat. Nyeri melanda lutut kiriku, cemas terasa. Tak ingin menambah beban sang padre dan para sahabat, kucoba tetap melangkah semangat J meski sakit bukan kepalang. Melewati savanna yang terbakar, kehijauan yang menipis diantara pohon-pohon cemara gunung, pikiranku melayang ke senja di hari pertamaku tiba pulau ini. Dalam misa yang lengang, dalam khotbah yang sayup-sayup terdengar, aku baru menyadari sang Romo hanya memiliki sebelah tangan. Kehilangan lengan kiri dalam sebuah kecelakaan hampir memutus impiannya menjadi seorang Imam. Dia bercerita, tak ada yang menginginkan seorang Romo bertangan buntung. Adalah karunia Tuhan hingga akhirnya impiannya melayani sang Bapa terkabul. Salib yang harus dia pikul setiap harinya. Entah kenapa, bayangannya yang memecah roti serta membagi-bagikannya dengan satu tangan masih terasa mengharukan, atau mungkin juga rasa sakit di lutut ini yang menyebabkannya.
Melangkah tertatih dalam iringan para sahabat, kami tiba di keheningan Plawangan Sembalun. Memandang senja berubah merah di atas danau Segara Anak di bawah sana. Sungguh menakjubkan. Tenda dalam warna warni cerah tampak di kejauhan pada pinggang bukit, pemberhentian sebelum puncak. Hilir mudik dalam canda, sore menjelang. Secangkir kopi jahe, senyum manismu kawan, pelengkap keindahan sore ini. Mari bersiap, pagi nanti ketabahanmu diuji.
Dalam terang senter yang berpendar-pendar pada keheningan dinihari ketiga, kami beriringan menapaki jalur ke puncak. Dingin menusuk, debu menyesak, dan lelah berkejaran mematahkan semangat. Dahaga memuncak dalam udara yang semakin tipis, pusing melanda. Dan beberapa sahabat terpaksa berhenti berjuang, tak perlu disesali. Semangatmu sahabat, kami bawa sampai ke puncak. Indah, dan agung. Beginilah rasanya, dalam peraduan sang Dewi Anjani. Langit biru, kabut memutih di bawah, dan kehijauan danau di kejauhan sana sungguh sepadan dengan rasa letih ini. Dan perasaan itu muncul lagi. Betapa kecilnya aku, betapa kecilnya kita teman. Betapa besar Dia sang maha pencipta. Terimakasih Tuhan.
Dan jalanan turun ternyata punya cara sendiri untuk menguji semangatku yang tersisa :). Tanpamu, sahabat yang tak kenal lelah mengiringi langkah-langkah kecilku , entah bagaimana setapak ini terlalui.
Sore hari, menuju keindahan Segara Anak, keagungan yang terasa mistis. Perlahan kami tiba, dan tenda-tenda kembali berdiri. Meringkuk tidur dalam bayangan danau, lelah memuncak sedikit terbayar. Pagi menjelang, segala terlihat hebat. Anak gunung Baru berdiri gagah, menantang pendahulunya. Air danau yang tenang berkilau dalam cahaya fajar, perbukitan yang bagaikan lukisan membuai khayalanku akan negeri asing. Wahai, adakah waktu dapat berhenti?
Keindahan ini serasa tak berakhir ketika siang harinya melalui tanjakan ke Plawangan Senaru, kembali sang Dewi memamerkan pesonanya sepanjang perjalanan. Bersama para sahabat, kembali menikmati senja menjelang, lebih indah, lebih megah, diantara hamparan perbukitan kuning kelabu dari pinggang Senaru. Lagi, secangkir kopi jahe diiring makan siang yang kesorean, bekal menuju perjalanan panjang menuju pos 2 dimana kami akan bermalam. Sedikit bersedih mencium aroma pohon dan semak terbakar, masih terasa panas abunya. Sudah dinihari saat kami tiba, segera berpeluk gelap yang dingin, tanpa mimpi. Namun senyum puas tentu menghias tidur singkat ini.
Segera, pagi ini perjalanan kami berakhir. Perjalanan berlanjut ke pos 1, dan Senaru membuka gerbang-gerbangnya bagi kami. Mempersilahkan kami kembali pulang. Bahagia tak terucap, haru terasa. Kami menyudahi kunjungan ini. Masih kurang. Masih ingin. Suatu saat nanti semoga kami boleh kembali.
Salam dan terimakasih para sahabat. Tanpamu, tidak indah perjalanan ini.
Rinjani, September 2011
Rabu, 06 April 2011
'Tis the season
It's April.. a week later.
I recalled the day, the moment I decided to leave it all behind, the comfort, the calmness, the cozy room of my mind. I said to myself, give it a try, just let the wind takes you wherever it blows. The promise of challenging self, I acquainted to the idea. I did it well. Now, it passed, I win!!
The season is here..
I'm getting the best part of wishing something, I dreamed and leave the rest to the blue sky. I thought the day will always bright, but who can say?
Undefeated, I shall fight the days. I am ready.
I recalled the day, the moment I decided to leave it all behind, the comfort, the calmness, the cozy room of my mind. I said to myself, give it a try, just let the wind takes you wherever it blows. The promise of challenging self, I acquainted to the idea. I did it well. Now, it passed, I win!!
The season is here..
I'm getting the best part of wishing something, I dreamed and leave the rest to the blue sky. I thought the day will always bright, but who can say?
Undefeated, I shall fight the days. I am ready.
Sabtu, 26 Maret 2011
Piece of s**t...
Late at night...
Almost dawn actually, no coffee, no deserts. Just me and this poor typing machine. An hour ago, frantically happy to hear a word or two from an old friend. Anyhow, it reminds me of being me these days. So poor, so sad that each day I spent is always in front of this square box. This is driving me mad. Can't think. Everything seems possible yet impossible. And the future lays vague for a bad egg. If by any chance I know I'll get to that point of my desire, I would ready to give up anything.
sigh**
Even the wind doesn't blow outside. And the world keeps moving on. Leaving me stands still. Pathetic..
I lost my spirit.
Almost dawn actually, no coffee, no deserts. Just me and this poor typing machine. An hour ago, frantically happy to hear a word or two from an old friend. Anyhow, it reminds me of being me these days. So poor, so sad that each day I spent is always in front of this square box. This is driving me mad. Can't think. Everything seems possible yet impossible. And the future lays vague for a bad egg. If by any chance I know I'll get to that point of my desire, I would ready to give up anything.
sigh**
Even the wind doesn't blow outside. And the world keeps moving on. Leaving me stands still. Pathetic..
I lost my spirit.
Kamis, 30 September 2010
Aku bisa saja membenci Tuhan…
Malam beranjak larut di Losd Tanjung Mbelang, satu dari sekian posko pengungsi letusan Sinabung di Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo. Semakin dingin, sementara losd ini tak berdinding dan hanya berlantaikan semen tipis. Suara sang padre memecah kerumunan yang menyesak di sekeliling losd.
Ini malam persis keduapuluh hari losd ini ditempati penduduk yg mengungsi meninggalkan kampung-kampung sejuk di kaki Sinabung. Semakin sesak terasa, mungkin terhimpit rasa bosan dan penantian tak pasti dari pakar2 vulkanologi yang omongannya sering tak sejalan keinginan alam.
Sang padre masih berbicara, menghibur segenap penghuni Losd.
Malam ini renungan rohani, acara yang digagas untuk memberikan penyejuk (atau tidak??) di hati para pengungsi yang sudah sangat resah. Sementara melamun, aku sayup mendengar dia berkata, mari jangan marah pada Penguasa alam, ini bukan sengsara karena Dia ingin menghukum kita. Mari menganggap ini kejadian alam, dan adalah wajar adanya. Bumi kita sudah tua, dan kita yang perlu untuk waspada. Mari lihat sisi baiknya, kita boleh berkumpul bersama disini, berkenalan dengan tetangga kampung sebelah yang selama ini mungkin tak terpikir untuk bersapa. Di atas segalanya, mari lihat bahwa kita kecil, dan butuh Dia.
Pikiranku mengembara, ini bencana terkadang bukan apa2 dibanding yang lalu2. Tidur dilantai dingin beralas tikar saja, selembar selimut menghindarkan hawa dingin, sarapan indomie malamnya ikan asin, terasa jauh lebih baik, masih lebih beruntung. Daripada bapak di tepi Ulee lheu, yang kehilangan istri dan anak gadis tersayang, tak tahu dimana kuburnya. Daripada Yudi yg harus menyimpan sebelah cincin pertunangan selamanya, daripada Gempa Jogja, daripada Banjir Baleendah, daripada Gempa Nias, Gempa Padang, Longsor Ciwidey, Gunung Merapi, Angin puting beliung, daripada… aahh betapa banyaknya.
Ini masih belum apa-apa…bukan apa-apa..
Satu masa aku berjumpa ibu yg mencari anak perempuannya, katanya terseret galumbang rayeuk tsunami waktu itu, tp dia mencari di perempatan lalu lintas Beuraweeh. Aku bawa ke pos polisi, dan mereka menertawakan si ibu (dan menertawakanku juga…) Banyak orang kehilangan akal jaman sekarang dik, katanya…
Bisakah percaya, Tuhan tidak sedang marah pada kita?
Dia tidak membenci kita, lanjut sang padre. Bagaimana bisa Dia membenci anak-anak kecil, membenci para wanita, membenci pria-pria yang seharian menghabiskan waktu di kebun jeruk, di ladang bawang. Ayolah, Dia kan Maha Kuasa, kalau mau hanya Sodom dan Gomora modern saja yang dihancurkannya, Dia akan pilih-pilih. Maka lagi-lagi, lihat ini sebagai satu fase alam, mari tekun berdoa, tekun siaga, tekun berbuat baik.
Ah padre, aku pun tak bisa siap..
Perlu seluruh kekuatan hati untuk memahami misteri ini, bahwa Tuhan baik aku percaya. Tapi saat seperti ini, ketika yang terbaring dihadapanku adalah bayi dengan hidung meler, berwajah pucat, terbungkus tumpukan selimut menahan dingin, nini tua meringkuk dalam syal kusam disebelah tumpukan kardus indomie, susah sekali membawa hati ini padaMu.
Bapak bisa saja membenci Tuhan, dulu itu kata Bapak di tepi Ulee lheu, tapi buat apalah… Bapak masih hidup dan mungkin karena masih ada yang harus Bapak selesaikan disini, itu saja… Nanti juga akhirnya kesana, maka lebih baik jalani hidup sepi ini sebaik mungkin. Ya…sebaik-baiknya…
Malam terus menghitam, membungkus hari2 kelabu. Suara sang padre kini bersyair merdu, menghibur dalam alunan khas lagu Karo. Ini untukmu Bapa ras Nande… mari melandek, larutkan saja resahmu dalam tarian…
# 081 2 empat kali 555 terkirim berita
bayang tedeh ateku kena
la ndekah erterima mis kal ibalasna
cirem cirem aku mbaca smsna
Salam sayang ulanai kam main mata #
Ini malam persis keduapuluh hari losd ini ditempati penduduk yg mengungsi meninggalkan kampung-kampung sejuk di kaki Sinabung. Semakin sesak terasa, mungkin terhimpit rasa bosan dan penantian tak pasti dari pakar2 vulkanologi yang omongannya sering tak sejalan keinginan alam.
Sang padre masih berbicara, menghibur segenap penghuni Losd.
Malam ini renungan rohani, acara yang digagas untuk memberikan penyejuk (atau tidak??) di hati para pengungsi yang sudah sangat resah. Sementara melamun, aku sayup mendengar dia berkata, mari jangan marah pada Penguasa alam, ini bukan sengsara karena Dia ingin menghukum kita. Mari menganggap ini kejadian alam, dan adalah wajar adanya. Bumi kita sudah tua, dan kita yang perlu untuk waspada. Mari lihat sisi baiknya, kita boleh berkumpul bersama disini, berkenalan dengan tetangga kampung sebelah yang selama ini mungkin tak terpikir untuk bersapa. Di atas segalanya, mari lihat bahwa kita kecil, dan butuh Dia.
Pikiranku mengembara, ini bencana terkadang bukan apa2 dibanding yang lalu2. Tidur dilantai dingin beralas tikar saja, selembar selimut menghindarkan hawa dingin, sarapan indomie malamnya ikan asin, terasa jauh lebih baik, masih lebih beruntung. Daripada bapak di tepi Ulee lheu, yang kehilangan istri dan anak gadis tersayang, tak tahu dimana kuburnya. Daripada Yudi yg harus menyimpan sebelah cincin pertunangan selamanya, daripada Gempa Jogja, daripada Banjir Baleendah, daripada Gempa Nias, Gempa Padang, Longsor Ciwidey, Gunung Merapi, Angin puting beliung, daripada… aahh betapa banyaknya.
Ini masih belum apa-apa…bukan apa-apa..
Satu masa aku berjumpa ibu yg mencari anak perempuannya, katanya terseret galumbang rayeuk tsunami waktu itu, tp dia mencari di perempatan lalu lintas Beuraweeh. Aku bawa ke pos polisi, dan mereka menertawakan si ibu (dan menertawakanku juga…) Banyak orang kehilangan akal jaman sekarang dik, katanya…
Bisakah percaya, Tuhan tidak sedang marah pada kita?
Dia tidak membenci kita, lanjut sang padre. Bagaimana bisa Dia membenci anak-anak kecil, membenci para wanita, membenci pria-pria yang seharian menghabiskan waktu di kebun jeruk, di ladang bawang. Ayolah, Dia kan Maha Kuasa, kalau mau hanya Sodom dan Gomora modern saja yang dihancurkannya, Dia akan pilih-pilih. Maka lagi-lagi, lihat ini sebagai satu fase alam, mari tekun berdoa, tekun siaga, tekun berbuat baik.
Ah padre, aku pun tak bisa siap..
Perlu seluruh kekuatan hati untuk memahami misteri ini, bahwa Tuhan baik aku percaya. Tapi saat seperti ini, ketika yang terbaring dihadapanku adalah bayi dengan hidung meler, berwajah pucat, terbungkus tumpukan selimut menahan dingin, nini tua meringkuk dalam syal kusam disebelah tumpukan kardus indomie, susah sekali membawa hati ini padaMu.
Bapak bisa saja membenci Tuhan, dulu itu kata Bapak di tepi Ulee lheu, tapi buat apalah… Bapak masih hidup dan mungkin karena masih ada yang harus Bapak selesaikan disini, itu saja… Nanti juga akhirnya kesana, maka lebih baik jalani hidup sepi ini sebaik mungkin. Ya…sebaik-baiknya…
Malam terus menghitam, membungkus hari2 kelabu. Suara sang padre kini bersyair merdu, menghibur dalam alunan khas lagu Karo. Ini untukmu Bapa ras Nande… mari melandek, larutkan saja resahmu dalam tarian…
# 081 2 empat kali 555 terkirim berita
bayang tedeh ateku kena
la ndekah erterima mis kal ibalasna
cirem cirem aku mbaca smsna
Salam sayang ulanai kam main mata #
Senin, 27 September 2010
Misa Sunyi dan Pukul Bantal..
Dua bulan?? Ah ya, aku sudah tak ikut misa dua bulan, delapan kali hari minggu tepatnya, dua kali gajian tanpa potongan.. betapa hebatnya.
Maaf Bapa…
Tadi alasanku adalah membantu persiapan lomba sampan di Nelayan. Kuanggap lebih penting, padahal sebenarnya aku bisa menyisihkan 1 jam pagiku. Excuse…lagi-lagi.
Selesai sudah kemeriahan itu… semua senang, mudah-mudahan. Bangga juga aku pada mereka, pada kesederhanaan yang sarat mengiringi kegiatan. Betapa lugunya, saat sang ketua memberi kata sambutan, dengan santai seorang ibu lewat sambil memanggil-manggil putra kecilnya. Belum lagi bapak setengah baya yang melongok2 catatan pidato pak Ketua, hingga dia harus berhenti sejenak dan menghadiahkan senyum malu-malu, hahahaha…
Ah, indahnya hari.
Sampan-sampan kayu tua, tak elok dan tak berwarna, berbaur dalam kilauan matahari di atas air sungai. Teriakan dan gemuruh tepuk tangan menyemangati para pemuda dusun yang sudah ketinggalan jauh dikalahkan pria2 dewasa bertangan kekar, berkulit legam yang menunjukkan betapa kerasnya hidup yang sudah mereka jalani.
Hei anak muda, betapa malunya, kamu kalah.
Suara gedebuk bantal berisi dedaunan kering terdengar dari sebelah sana. Para wanita dan anak-anak berlomba pukul bantal. Seru, tak ada banding.
Duduk di atas balok dilumur minyak gemuk, dua orang saling memukul sampai salah satu jatuh dan menyentuh air. Seringkali, yg paling banyak memukul lawan adalah yg jatuh duluan ke dalam air, sementara sang bertahan mampu menyeimbangkan duduknya dalam beruntunan pukulan. Pelajaran berharga, semakin banyak memukul semakin kamu mudah basah.
Di sudut lainnya, panitia menyusun tumpukan hadiah. Kali ini, juara satu lomba sampan mendapat beras ber-kg dan sekantung penuh mie instant. Oh, ditambah sedikit uang pembeli rokok. Sedang itu pel lantai dan selembar selimut untuk para juara harapan. Tumpukan piring plastik, lagi-lagi ditambah beberapa keping mie instant, untuk para penggebuk bantal. Tak ada yang butuh trophy.
Semua berlomba, semua menang, semua dapat hadiah…
Tepukan dan salam terimakasih, saling mengucap silih berganti. Senyum di wajah Ketua, di wajah ibu SekDes, di wajah Amran yg tadi jatuh bergedebuk bak durian melayang di air tenang. Gembira pedagang jagung jualannya ludes, dan pak tukang es krim mengorek-ngorek lapisan terakhir. Senang dan puas..
Betapa sempurnanya hari... seandainya saja, ya seandainya sebelumnya, aku tidak melewatkan diri di depan jeep tua sang romo yang terparkir anggun depan gereja kecil samping jalan rumah itu.
Maaf Bapa…
Tadi alasanku adalah membantu persiapan lomba sampan di Nelayan. Kuanggap lebih penting, padahal sebenarnya aku bisa menyisihkan 1 jam pagiku. Excuse…lagi-lagi.
Selesai sudah kemeriahan itu… semua senang, mudah-mudahan. Bangga juga aku pada mereka, pada kesederhanaan yang sarat mengiringi kegiatan. Betapa lugunya, saat sang ketua memberi kata sambutan, dengan santai seorang ibu lewat sambil memanggil-manggil putra kecilnya. Belum lagi bapak setengah baya yang melongok2 catatan pidato pak Ketua, hingga dia harus berhenti sejenak dan menghadiahkan senyum malu-malu, hahahaha…
Ah, indahnya hari.
Sampan-sampan kayu tua, tak elok dan tak berwarna, berbaur dalam kilauan matahari di atas air sungai. Teriakan dan gemuruh tepuk tangan menyemangati para pemuda dusun yang sudah ketinggalan jauh dikalahkan pria2 dewasa bertangan kekar, berkulit legam yang menunjukkan betapa kerasnya hidup yang sudah mereka jalani.
Hei anak muda, betapa malunya, kamu kalah.
Suara gedebuk bantal berisi dedaunan kering terdengar dari sebelah sana. Para wanita dan anak-anak berlomba pukul bantal. Seru, tak ada banding.
Duduk di atas balok dilumur minyak gemuk, dua orang saling memukul sampai salah satu jatuh dan menyentuh air. Seringkali, yg paling banyak memukul lawan adalah yg jatuh duluan ke dalam air, sementara sang bertahan mampu menyeimbangkan duduknya dalam beruntunan pukulan. Pelajaran berharga, semakin banyak memukul semakin kamu mudah basah.
Di sudut lainnya, panitia menyusun tumpukan hadiah. Kali ini, juara satu lomba sampan mendapat beras ber-kg dan sekantung penuh mie instant. Oh, ditambah sedikit uang pembeli rokok. Sedang itu pel lantai dan selembar selimut untuk para juara harapan. Tumpukan piring plastik, lagi-lagi ditambah beberapa keping mie instant, untuk para penggebuk bantal. Tak ada yang butuh trophy.
Semua berlomba, semua menang, semua dapat hadiah…
Tepukan dan salam terimakasih, saling mengucap silih berganti. Senyum di wajah Ketua, di wajah ibu SekDes, di wajah Amran yg tadi jatuh bergedebuk bak durian melayang di air tenang. Gembira pedagang jagung jualannya ludes, dan pak tukang es krim mengorek-ngorek lapisan terakhir. Senang dan puas..
Betapa sempurnanya hari... seandainya saja, ya seandainya sebelumnya, aku tidak melewatkan diri di depan jeep tua sang romo yang terparkir anggun depan gereja kecil samping jalan rumah itu.
Langganan:
Postingan (Atom)