Seperti angin meniup kapas.. pada jalinan batang kokoh yang
tak gentar menyapa badai,
merajut empuk bantal dan tilam.
Seperti api dan daunan kering, membakar malam dingin dan
pekat gelap.
Hangat merajuk sehingga enggan diri beranjak.
Damailah hati…
Seperti kata dan fatwa pujangga, bersyair indah nan
merdu,
sejuk hingga ke sukma.
Seperti tangis bayi, dan bau bedaknya harum
membawa khayal pada indah surgawi
dan dewi-dewi menari anggun.
Damailah bumi…
Dalam temaram lilin dan hembus nafas perlahan..
Dibawah terang pohonan cemara dan rimbun gaba
Gabanya..
Bercerita kisah Dia yang indah..
Sang terang
Sang hidup
Sang damai.
Langkat, 27 dec 2011
Tampilkan postingan dengan label Lg Puitis.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lg Puitis.... Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 Desember 2011
Jumat, 28 Oktober 2011
Dua delapan..
Sempurna... mestinya.
sepuluh,
bukan?
Menyatu katanya..
Taklimat saat itu
aku cinta negeri ini,
dengan segala kebusukannya.
dua
dan
delapan
sempurna...
Sepuluh?
duadelapanoktoberduaribusebelas, 18.04wib
sepuluh,
bukan?
Menyatu katanya..
Taklimat saat itu
aku cinta negeri ini,
dengan segala kebusukannya.
dua
dan
delapan
sempurna...
Sepuluh?
duadelapanoktoberduaribusebelas, 18.04wib
Selasa, 25 Oktober 2011
Rinduku rindu..
rinduku padamu,
tuan dalam malam dan
rembulan enggan..
bisu yang riang lalu
memuncak kala fajar menjelang.
rinduku kamu,
semilir merajuk tak hendak
lalu..
bisik mesra senada
kecewa.
ah..
rinduku rindu,
sunyi berkalang
sunyi menghilang
padamu,
kamu,
rindu.
Pontianak, 25 okt 2011
tuan dalam malam dan
rembulan enggan..
bisu yang riang lalu
memuncak kala fajar menjelang.
rinduku kamu,
semilir merajuk tak hendak
lalu..
bisik mesra senada
kecewa.
ah..
rinduku rindu,
sunyi berkalang
sunyi menghilang
padamu,
kamu,
rindu.
Pontianak, 25 okt 2011
Senin, 26 Juli 2010
Kalah..
Ah...
pagi menjelang dalam secangkir kopi mengepul..
masih ingatkah, waktu itu kau minta sejenak kita berbincang
tentang indahnya malam saat bulan mencoba menggoda awan
Aku katakan dunia hari ini mestinya tersenyum
kau bilang tak perlu sayangku, aku cukup senyummu
dalam selembar koran kemarin kau mengeluh
Ini kota sudah tak ramah lagi..
dan engkau pergi dalam diam
Di kebisuan kemudian..
aku memandang hari berubah merah
ketika kau kembali dalam kelusuhan petang
memandang penuh kesedihan..
sayang, esok tak perlu sajikan kopi
kita berbincang saja
esok aku tidak kemana-mana..
Medan, 26 juli 2010
pagi menjelang dalam secangkir kopi mengepul..
masih ingatkah, waktu itu kau minta sejenak kita berbincang
tentang indahnya malam saat bulan mencoba menggoda awan
Aku katakan dunia hari ini mestinya tersenyum
kau bilang tak perlu sayangku, aku cukup senyummu
dalam selembar koran kemarin kau mengeluh
Ini kota sudah tak ramah lagi..
dan engkau pergi dalam diam
Di kebisuan kemudian..
aku memandang hari berubah merah
ketika kau kembali dalam kelusuhan petang
memandang penuh kesedihan..
sayang, esok tak perlu sajikan kopi
kita berbincang saja
esok aku tidak kemana-mana..
Medan, 26 juli 2010
Minggu, 25 April 2010
Nanti…
Aku mau menikmati segelas kopi
Di temaram senja
Bersama sepiring ubi goreng, dan selimut kaki
Nanti…
Aku mau menikmati senja
Bersama tetes embun terakhir
Sambil mengingat-ingat kamu
Nanti...
Aku mau menghabiskan malamku
Bersama alunan jangkrik
Dan suara-suara malam
Di peraduanku yang empuk
Nanti…
Hari ini,
Aku mau berpeluh
Menantang hari, mandi bersama terik mentari
Aku mau mengaduh
Bersama dingin malam, merasuk tulangku
Menapaki kamu yang membawaku ke puncak semangatku
Dimana waktu aku hentikan sejenak
Sebab indah ini tak cukup ruang dimataku
Sebab rasa ini tak bisa hanya milikku
Sebab alam ini akan menyesaki dadaku
Dalam syukur yang tak terkira
Dalam tangis yang jadi tawa
Dalam merdekaku
Dalam merdekamu…
(Langkat, april ’10)
Di temaram senja
Bersama sepiring ubi goreng, dan selimut kaki
Aku mau menikmati senja
Bersama tetes embun terakhir
Sambil mengingat-ingat kamu
Nanti...
Aku mau menghabiskan malamku
Bersama alunan jangkrik
Dan suara-suara malam
Di peraduanku yang empuk
Nanti…
Hari ini,
Aku mau berpeluh
Menantang hari, mandi bersama terik mentari
Aku mau mengaduh
Bersama dingin malam, merasuk tulangku
Menapaki kamu yang membawaku ke puncak semangatku
Dimana waktu aku hentikan sejenak
Sebab indah ini tak cukup ruang dimataku
Sebab rasa ini tak bisa hanya milikku
Sebab alam ini akan menyesaki dadaku
Dalam syukur yang tak terkira
Dalam tangis yang jadi tawa
Dalam merdekaku
Dalam merdekamu…
(Langkat, april ’10)
Rabu, 31 Maret 2010
Sesaat...
Jadinya,
Sepi itu agung….
Ada kenikmatan disana,
angin…
langit…
aku …
malam…
ssstt…18 sept 05
Langganan:
Postingan (Atom)